Takut Jauh

Saat daun terlepas dari rantingnya dan terhempas ke tanah, tak ada yang pernah bisa mendengar rintihannya.

Bisa jadi dia sebenarnya tersedu, tapi kita sudah terlalu kaprah menganggapnya sepoi angin yang merayu.

Saat gurat perak pergi meninggalkan ginuk ginuknya awan, tak ada yang pernah dapat melihat gisiknya.

Siapa yang tahu, kemasygulannya tertutup gelegar petir yang mencekam. 

Sampai tiba pada suatu tanya;

Seberapa jauh kata jauh menakutimu?

posted under | 0 Comments

ceracau kopi

Kuseduh kopi dengan gula dan dobel krim kesukaanmu 
Tutur demi tutur terlontar saling mengisi dinginnya malam, menyeracau tentang gemerincing dan juga kerontang 

Sudah larut, lelakiku.

Koyak pada sandang kita ku coba perbaiki dengan tisik-tisik yang kuharap bisa cukup mengurungkan niatmu untuk menutup setiap jendela saat dingin menyambangi.

Ada lubang di pintu rumah kita, kataku. 
Jika sempat, perbaikilah:
Supaya dingin yang membekukan rasa dan prana kita tidak mematikan.

Sudah dan sedang
Tunggu saja
Katamu 

Suatu masa akan kaulihat setiap lubang di rumah ini akan kuperbaiki supaya kau bisa terlelap dan kemudian terjaga lagi supaya kau bisa terus menisik, membuat selimut nyaman untuk kita. 

Terhenyak 
Saat itu semua meluncur lancar dari bibirmu 
Termangu; keterlibatan antara ragu, harap, dan jarak barangkali 


Sudah larut, habiskan kopimu. 

posted under | 0 Comments

Mati Dian

Malam ini tak akan lagi ada dian
Yang biasa bersinar di pinggir jendela
Pemarkah untuk membantumu melihat pulang

Sudah kutrima pesanmu pagi itu
Kau tak mau lagi melihat pulang

Pulang (hanya untuk mereka yang sampai)

posted under | 0 Comments

tempat matahari bertemu dengan ujungnya.

Lebar,  Selebar jangkauan tangan kurengkuh
semua mimpi dan harap
kujaga semuanya, bahkan hal yang tak sempat terucap

sepeluk sarat makna yang tak ingin kulepas begitu saja
senyum menghiasi wajahku yang katamu makin pucat
masakan Yang Maha Kasih ingin kita saling melupakan?

duduk bersila di tengah rerumputan bunga
menunggumu dalam diam, seraya menikmati harum sekar yang buatku semakin terjaga
kekasih, aku tak tahu kapan semesta mengizinkan kita bersua
yang kutahu, jika saat itu tiba, rasa kita akan selalu ada

masakan Yang Maha Hidup ingin itu mati tanpa lagu ?
begitu saja?

sampai kapan kau mau menunggunya pulang?
sampai petikan gitar tak lagi bermelodi
sampai semesta mengizinkanku bersua dengan penuai rinduku di situ,
di jalan itu,
tempat matahari bertemu dengan ujungnya.



posted under | 0 Comments

Kepalang Tanggung

Sudah kepalang tanggung
memang tak seharusnya ini dibendung

Lebih kepada kenyataan bahwa setiap awan menampung kenangan yang akan selalu bermurah hati untuk mencurahkannya saat musim hujan bertandang.
Seperti hari ini, kemarin, dan hari-hari sebelumnya, hujan kembali datang.
Tak ada pilihan, ku menari di antara tiap pelukan rintik yang sakit.

Sebaiknya memang jangan terlalu lelap tertidur, setidaknya berjaga.
Karena siapa nyana, ketukan tanda pulangmu menyeruak di antara embun esok pagi.

posted under | 0 Comments

Memaknai Kebahagiaan

Diakui atau tidak, kebahagian memang sangat beragam bentuknya dan relatif nilainya. Nilai kebahagian seorang petani tentu sangat lain dengan nilai kebahagiaan seorang diplomat yang sering terbang ke berbagai negeri. Singkatnya, setiap individu memiliki referensi yang berbeda dalam memaknai kebahagian dan ketidakbahagiaannya.

Lantas, kalau kita sudah bisa mencapai kebahagiaan yang diinginkan, masih ada pertanyaan lebih lanjut; Apa yang bisa kita dapat dari kebahagiaan itu sendiri? Tidak jarang saya malah tidak tahu apa yang sudah saya dapatkan dari bentuk kebahagiaan yang pernah saya rasakan. Namun terkadang, saya malah mendapatkan sesuatu yang berharga dari sebuah peristiwa yang diberi label kesedihan oleh manusia kebanyakan.

Hermann Hesse (2 Juli 1877 - 9 Agustus 1962), penyair dan novelis peraih Nobel asal Jerman, dalam puisinya yang berjudul "Kabahagiaan" menyatakan bahwa:

Selama engkau mengejar kebahagiaan, engkau belum matang untuk berbahagia
biarpun milikmu segala kesayangan.

Selama engkau mengeluh karena ada yang hilang dan punya tujuan serta tiada tenang, kau belum tahu apa arti kedamaian.

Baru setelah engkau lepaskan segala keinginan, tak kenal lagi hasrat dan tujuan, tak lagi menyebut nama kebahagiaan, maka banjir segala kejadian tak lagi menyentuh hatimu, maka jiwamu akan tenang.

Barangkali saja kutipan puisi tadi bisa menjadi pengatar untuk kita berkontemplasi di tengah realitas dunia yang semakin sarat dengan keambiguan.

Akhir kata, apapun bentuknya, jangan lupa dekap kebahagiaanmu.

posted under | 0 Comments

Terbang Pulang

Hari ini saya dipertemukan untuk ketiga kalinya dengan film berjudul "Fly Away Home" (1996). Film ini mengisahkan persahabatan Amy Alden, diperankan sangat apik oleh Anna Paquin, dan 16 ekor angsa. Ia menemukan telur-telur di dekat rumah ayahnya, yang
terlantar saat hutan dekat rumah mereka dirayah oleh buldozer.

Amy yang sedang berduka karena baru saja ditinggal oleh ibunya yang meninggal dunia karena kecelakaan, harus beradaptasi ketika ia harus tinggal bersama ayahnya di Kanada.
Ikatan emosional antara Amy dan angsa-angsa kecil, yang ia tetaskan di gudang milik ayahnya, menjadi titik kekuatan film ini. From the way i saw it, Amy menemukan gairahnya kembali setelah beberapa saat merasa kebas dan tak paham tentang semua yang telah terjadi.

Permasalahan muncul ketika menjelang waktu migrasi angsa dari Kanada ke Amerika Serikat di musim gugur. Angsa-angsa itu belum bisa terbang.
Tom, ayah Amy, yang juga tengah bergelut dengan penemuannya, yakni mesin terbang sederhana, mempunyai ide untuk
mengajari angsa-angsa itu terbang dan mengarahkan mereka bermigrasi ke selatan. Dengan apa? Mesin terbang temuannya itu.

Cerita mengalir, mulai dari kesulitan teknis dan nonteknis sampai akhirnya Amy sanggup mengantarkan angsa-angsa tsb sampai North Carolina. Seolah mustahil jika dilakukan oles seorang remaja berusia 14 tahun, but she did it.

In my humble opinion, film ini sangat layak tonton dan personally saya tidak merasa bosan untuk menontonnya lagi dan lagi. Alunan lagu "10,000 Miles"yang dinyanyikan oleh Mary Chapin Carpenter dalam film ini menambah daya pikatnya.

Melalui film ini ada satu pesan yang harus berulang kali saya ingat: to achieve the incredible, you have to attempt the Impossible.

posted under | 0 Comments
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Followers


Recent Comments