ceracau kopi
Mati Dian
Malam ini tak akan lagi ada dian
Yang biasa bersinar di pinggir jendela
Pemarkah untuk membantumu melihat pulang
Sudah kutrima pesanmu pagi itu
Kau tak mau lagi melihat pulang
Pulang (hanya untuk mereka yang sampai)
tempat matahari bertemu dengan ujungnya.
Lebar, Selebar jangkauan tangan kurengkuh
semua mimpi dan harap
kujaga semuanya, bahkan hal yang tak sempat terucap
sepeluk sarat makna yang tak ingin kulepas begitu saja
senyum menghiasi wajahku yang katamu makin pucat
masakan Yang Maha Kasih ingin kita saling melupakan?
duduk bersila di tengah rerumputan bunga
menunggumu dalam diam, seraya menikmati harum sekar yang buatku semakin terjaga
kekasih, aku tak tahu kapan semesta mengizinkan kita bersua
yang kutahu, jika saat itu tiba, rasa kita akan selalu ada
masakan Yang Maha Hidup ingin itu mati tanpa lagu ?
begitu saja?
sampai kapan kau mau menunggunya pulang?
sampai petikan gitar tak lagi bermelodi
sampai semesta mengizinkanku bersua dengan penuai rinduku di situ,
di jalan itu,
tempat matahari bertemu dengan ujungnya.
Kepalang Tanggung
Sudah kepalang tanggung
memang tak seharusnya ini dibendung
Lebih kepada kenyataan bahwa setiap awan menampung kenangan yang akan selalu bermurah hati untuk mencurahkannya saat musim hujan bertandang.
Seperti hari ini, kemarin, dan hari-hari sebelumnya, hujan kembali datang.
Tak ada pilihan, ku menari di antara tiap pelukan rintik yang sakit.
Sebaiknya memang jangan terlalu lelap tertidur, setidaknya berjaga.
Karena siapa nyana, ketukan tanda pulangmu menyeruak di antara embun esok pagi.
Memaknai Kebahagiaan
Diakui atau tidak, kebahagian memang sangat beragam bentuknya dan relatif nilainya. Nilai kebahagian seorang petani tentu sangat lain dengan nilai kebahagiaan seorang diplomat yang sering terbang ke berbagai negeri. Singkatnya, setiap individu memiliki referensi yang berbeda dalam memaknai kebahagian dan ketidakbahagiaannya.
Lantas, kalau kita sudah bisa mencapai kebahagiaan yang diinginkan, masih ada pertanyaan lebih lanjut; Apa yang bisa kita dapat dari kebahagiaan itu sendiri? Tidak jarang saya malah tidak tahu apa yang sudah saya dapatkan dari bentuk kebahagiaan yang pernah saya rasakan. Namun terkadang, saya malah mendapatkan sesuatu yang berharga dari sebuah peristiwa yang diberi label kesedihan oleh manusia kebanyakan.
Hermann Hesse (2 Juli 1877 - 9 Agustus 1962), penyair dan novelis peraih Nobel asal Jerman, dalam puisinya yang berjudul "Kabahagiaan" menyatakan bahwa:
Selama engkau mengejar kebahagiaan, engkau belum matang untuk berbahagia
biarpun milikmu segala kesayangan.
Selama engkau mengeluh karena ada yang hilang dan punya tujuan serta tiada tenang, kau belum tahu apa arti kedamaian.
Baru setelah engkau lepaskan segala keinginan, tak kenal lagi hasrat dan tujuan, tak lagi menyebut nama kebahagiaan, maka banjir segala kejadian tak lagi menyentuh hatimu, maka jiwamu akan tenang.
Barangkali saja kutipan puisi tadi bisa menjadi pengatar untuk kita berkontemplasi di tengah realitas dunia yang semakin sarat dengan keambiguan.
Akhir kata, apapun bentuknya, jangan lupa dekap kebahagiaanmu.
Terbang Pulang
Hari ini saya dipertemukan untuk ketiga kalinya dengan film berjudul "Fly Away Home" (1996). Film ini mengisahkan persahabatan Amy Alden, diperankan sangat apik oleh Anna Paquin, dan 16 ekor angsa. Ia menemukan telur-telur di dekat rumah ayahnya, yang
terlantar saat hutan dekat rumah mereka dirayah oleh buldozer.
Amy yang sedang berduka karena baru saja ditinggal oleh ibunya yang meninggal dunia karena kecelakaan, harus beradaptasi ketika ia harus tinggal bersama ayahnya di Kanada.
Ikatan emosional antara Amy dan angsa-angsa kecil, yang ia tetaskan di gudang milik ayahnya, menjadi titik kekuatan film ini. From the way i saw it, Amy menemukan gairahnya kembali setelah beberapa saat merasa kebas dan tak paham tentang semua yang telah terjadi.
Permasalahan muncul ketika menjelang waktu migrasi angsa dari Kanada ke Amerika Serikat di musim gugur. Angsa-angsa itu belum bisa terbang.
Tom, ayah Amy, yang juga tengah bergelut dengan penemuannya, yakni mesin terbang sederhana, mempunyai ide untuk
mengajari angsa-angsa itu terbang dan mengarahkan mereka bermigrasi ke selatan. Dengan apa? Mesin terbang temuannya itu.
Cerita mengalir, mulai dari kesulitan teknis dan nonteknis sampai akhirnya Amy sanggup mengantarkan angsa-angsa tsb sampai North Carolina. Seolah mustahil jika dilakukan oles seorang remaja berusia 14 tahun, but she did it.
In my humble opinion, film ini sangat layak tonton dan personally saya tidak merasa bosan untuk menontonnya lagi dan lagi. Alunan lagu "10,000 Miles"yang dinyanyikan oleh Mary Chapin Carpenter dalam film ini menambah daya pikatnya.
Melalui film ini ada satu pesan yang harus berulang kali saya ingat: to achieve the incredible, you have to attempt the Impossible.
Total Tayangan Halaman
About Me
- niken adiana wiradani soebarkah
- perempuan sederhana yang masih selalu dalam proses belajar, dan sangat percaya akan kekuatan kasih.
Label
- Inestimable (1)
- magenta (4)
- Menanti Asa (1)
- Penuai Rinduku (15)
- pria berjaket abu-abu di sudut kursi bus transjakarta (17)
- sekadar mem(bahas)a (19)
- sekadar menulis (18)
- the man who keeps me sane (8)
Recent Comments