Tampilkan postingan dengan label sekadar menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekadar menulis. Tampilkan semua postingan

Merayakan 21

20 Jan 1997 - 20 Jan 2018

21 tahun sudah, Pa, sejak Tuhan memutuskan bahwa rumah barumu di sana sudah siap ditempati. Satu hal yang ingin kusampaikan, kami semua baik-baik saja di sini, hanya karena kasih setia dan penyertaanNya yang ajaib.

Merindukanmu, itu pasti. Mengingatmu seraya terisak saat keadaan tak menentu, masih kerap terjadi. Membayangkanmu memasuki gang depan dengan motor Honda GL100 yang kau banggakan itu, sering ku lakukan. Mendengar langkah kakimu memasuki rumah kami dengan senyum jahilmu, masih sering kuharapkan.

Time heals kalau kata orang bijak. Tapi jelas terbukti bahwa untuk orang sepertimu, waktu pun tak bisa sepenuhnya menyembuhkan rongga besar di dalam diriku. Kalau aku diberi satu kesempatan utk mengajukan permintaan untuk dikabulkan, aku ingin sekali lagi bertemu, membonceng manis di belakangmu, menghirup aroma punggungmu, menikmati es krim yang kita beli dan makan diam2 di pelataran rumah susun dekat rumah, tertawa terbahak bersamamu, bernyanyi bersamamu, bersandar sejenak di bahumu untuk bercerita dan mengadu. Seandainya saja.

Pa, dalam perjalanan pulang tadi angin sepoi nan sejuk menyapu tubuhku dengan lembut. Saat itupun aku terhenyak dan tersadar bahwa kau tidak pernah sepenuhnya pergi dari sisiku. Terima kasih atas "kunjungan2" singkat yang sesekali kau lakukan, yang tak ayal menyunggingkan senyum di bibirku.

Terima kasih karena kau tidak pernah berlelah menunjukkan kasihmu pada kami, terima kasih atas keyakinanmu padaku bahwa aku perempuan berharga yang pantas dicintai. Terima kasih untuk setiap rengkuh hangatmu saat aku merasa bahwa dunia ini tak pernah menyajikan hal2 indah. Harus aku akui, Pa, bahwa kepergianmu merupakan suatu "berkah" buat kami, buatku. Karena aku tidak akan menjadi seperti sekarang jika aku tak tahu dan merasakan makna kehilangan.

Selamat merayakan 21 tahun menempati rumah barumu, Pa. Kelak kita akan bertemu dan berkumpul lagi. Kepada Yang Tiada Pernah berlelah, tolong sampaikan berjuta rinduku untuknya.

posted under | 3 Comments

Memaknai Kebahagiaan

Diakui atau tidak, kebahagian memang sangat beragam bentuknya dan relatif nilainya. Nilai kebahagian seorang petani tentu sangat lain dengan nilai kebahagiaan seorang diplomat yang sering terbang ke berbagai negeri. Singkatnya, setiap individu memiliki referensi yang berbeda dalam memaknai kebahagian dan ketidakbahagiaannya.

Lantas, kalau kita sudah bisa mencapai kebahagiaan yang diinginkan, masih ada pertanyaan lebih lanjut; Apa yang bisa kita dapat dari kebahagiaan itu sendiri? Tidak jarang saya malah tidak tahu apa yang sudah saya dapatkan dari bentuk kebahagiaan yang pernah saya rasakan. Namun terkadang, saya malah mendapatkan sesuatu yang berharga dari sebuah peristiwa yang diberi label kesedihan oleh manusia kebanyakan.

Hermann Hesse (2 Juli 1877 - 9 Agustus 1962), penyair dan novelis peraih Nobel asal Jerman, dalam puisinya yang berjudul "Kabahagiaan" menyatakan bahwa:

Selama engkau mengejar kebahagiaan, engkau belum matang untuk berbahagia
biarpun milikmu segala kesayangan.

Selama engkau mengeluh karena ada yang hilang dan punya tujuan serta tiada tenang, kau belum tahu apa arti kedamaian.

Baru setelah engkau lepaskan segala keinginan, tak kenal lagi hasrat dan tujuan, tak lagi menyebut nama kebahagiaan, maka banjir segala kejadian tak lagi menyentuh hatimu, maka jiwamu akan tenang.

Barangkali saja kutipan puisi tadi bisa menjadi pengatar untuk kita berkontemplasi di tengah realitas dunia yang semakin sarat dengan keambiguan.

Akhir kata, apapun bentuknya, jangan lupa dekap kebahagiaanmu.

posted under | 0 Comments

Terbang Pulang

Hari ini saya dipertemukan untuk ketiga kalinya dengan film berjudul "Fly Away Home" (1996). Film ini mengisahkan persahabatan Amy Alden, diperankan sangat apik oleh Anna Paquin, dan 16 ekor angsa. Ia menemukan telur-telur di dekat rumah ayahnya, yang
terlantar saat hutan dekat rumah mereka dirayah oleh buldozer.

Amy yang sedang berduka karena baru saja ditinggal oleh ibunya yang meninggal dunia karena kecelakaan, harus beradaptasi ketika ia harus tinggal bersama ayahnya di Kanada.
Ikatan emosional antara Amy dan angsa-angsa kecil, yang ia tetaskan di gudang milik ayahnya, menjadi titik kekuatan film ini. From the way i saw it, Amy menemukan gairahnya kembali setelah beberapa saat merasa kebas dan tak paham tentang semua yang telah terjadi.

Permasalahan muncul ketika menjelang waktu migrasi angsa dari Kanada ke Amerika Serikat di musim gugur. Angsa-angsa itu belum bisa terbang.
Tom, ayah Amy, yang juga tengah bergelut dengan penemuannya, yakni mesin terbang sederhana, mempunyai ide untuk
mengajari angsa-angsa itu terbang dan mengarahkan mereka bermigrasi ke selatan. Dengan apa? Mesin terbang temuannya itu.

Cerita mengalir, mulai dari kesulitan teknis dan nonteknis sampai akhirnya Amy sanggup mengantarkan angsa-angsa tsb sampai North Carolina. Seolah mustahil jika dilakukan oles seorang remaja berusia 14 tahun, but she did it.

In my humble opinion, film ini sangat layak tonton dan personally saya tidak merasa bosan untuk menontonnya lagi dan lagi. Alunan lagu "10,000 Miles"yang dinyanyikan oleh Mary Chapin Carpenter dalam film ini menambah daya pikatnya.

Melalui film ini ada satu pesan yang harus berulang kali saya ingat: to achieve the incredible, you have to attempt the Impossible.

posted under | 0 Comments

Rumah Kakung-Uti

Pernah tertulis bahwa hidup adalah perjalanan untuk membangun rumah untuk hati. Mencari penutup lubang-lubang kekecewaan, penderitaan, ketidakpastian, dan keraguan.
Buat saya, rumah ini salah satu saksi bisu atas pencarian tersebut.
Adalah sebuah rumah tua di Salaman-Magelang, yang berdiri kokoh sampai sekarang hanya oleh karena rahmat Sang Maha Hidup.

Satu hal yang terpatri di hati ketika memandang rumah ini, "Mung Katresnan Kang Mbangun Brayat." Percayalah, kasih itulah yang membuat rumah tua ini menjadi sedemikian eloknya.

Teruntuk yang terkasih alm. Kakung dan Uti, terima kasih karena pernah menemani kami semua menata hati dan mengolah rasa di rumah ini.
Kasih; nama lain dari sebuah rumah.
Tak banyak yang saya minta selain izin untuk selalu pulang lagi.

posted under | 0 Comments

Mumpung

Sepanjang 2016 kemarin, banyak sekali yang pergi mendahului kita. Baik yang dekat di hati, yang teramat kita kasihi, atau sekadar orang yang kita kenal begitu saja.
Apapun dan bagaimanapun posisi mereka di hati kita masing-masing pastilah telah menorehkan gambar tersendiri di lini masa hidup kita, sedikit/ banyak, gelap/terang, berwarna/cenderung monokromatik.

Saya, sebutlah dengan label apapun yang kalian kehendaki, adalah seorang yang tidak pernah bisa beradaptasi dengan baik dengan keadaan yang bertajuk "kehilangan orang yang saya kasihi". Butuh proses dan waktu yang tidak sebentar bagi saya untuk mencerna setiap peristiwa kehilangan yang dalam 5 tahun belakangan seolah datang bertubi-tubi. Saya sudah sampai pada "Okay, Boss, who's next? What's next" kind of phase.

Kebetulan, karena masih libur saya menyempatkan diri menyusun dan merawat foto-foto lama. Bak video, semua memori terputar kembali secara otomatis saat saya memandangi wajah-wajah mereka, yang telah kembali ke Rumah Yang Senang itu. Senyum disusul dengan tetes air mata pun terjadilah.

Dalam otak saya, yang tak seberapa besar ini, saya mencoba melogikakan peristiwa meninggalkan-ditinggalkan; peristiwa resiprokal yang mutlak terjadi dalam hidup.

»Saat Senja datang, apakah Bumi yang pergi meninggalkan atau Matahari yang mengucapkan selamat tinggal?« .

Entahlah.
Yang jelas keduanya sama-sama terluka.
Yang terpenting saya sudan belajar tentang kehilangan (lagi dan lagi tiada henti); bahwa tiada satupun yang bertajuk abadi.

Teringat pada perkataan seorang kawan:
"Tak ada yang absolut di dunia ini, kak. Yang absolut hanya kecepatan cahaya." ~Gita Elisa Ginting.

Mumpung masih diberi kesempatan, mumpung jatah nafas masih diberikan secara cuma-cuma oleh Sang Maha Hidup, nggak ada salahnya mengekspresikan rasa sayang kita ke orang-orang yang berarti dalam hidup.

Seperti kata mas Chris Martin: "So if you love someone, you should let them know oh the light that you left me will everglow..." .

Couldn't agree more... 💖💙

posted under | 0 Comments

Ngopeni Berkah

"Kenapa, sih, Pa, Papa suka banget sama lampu gantung kayak gini? Repot, tauk, harus tiap minggu ngebersihin," tanya saya pada suatu Minggu saat saya kecil dulu.

"Nyeni, dik. Lan ketok njawani. Bentuknya yang ndak biasa mengharuskan kita lebih ngopeni berkah," jawab alm. Ayah saya waktu itu.

Jawaban yang absurd buat anak SD, bukan? Ketimbang ketidakmudengan saya berlanjut, saya urungkan pertanyaan lain di kepala atas reaksi jawaban seperti itu, dan serta merta menanggapi dengan "Ooh..." .

Kemarin, Jakarta diguyur hujan lebat. Rumah kami yang tua disambangi bocor di sana-sini, termasuk di ruang tamu, tepat di atas salah satu lampu gantung kebanggan Ayah saya itu. Bisa ditebak, korslet disusul oleh mati lampu terjadi.

Sore ini saya memutuskan untuk mencoba mengganti fitting (rumah lampu) yang jadi sumber gelapnya rumah kemarin. Kegiatan yang butuh kesabaran karena ternyata cukup ribet bin riweuh melakukannya. Ilmu  yang saya peroleh dari ekskul elektro saat SMP dulu seolah tak membantu. Diiringi peluh dan keluh, penggantian fitting pun purna jaya. Ruang tamu kembali terang.

Tak berhenti di situ. Ibu saya, yang tak pernah bisa membiarkan anaknya berleha-leha saat liburan, menginstuksikan saya secara kejam untuk membersihkan lampu gantung serupa yang ada di rumah. Yak, betul, kelima-limanya.

Menghindari "nyanyian merdu" beliau yang bisa berlanjut sepanjang hari bahkan minggu, saya segera sigap melaksanakan instruksinya. "Siap, Ndan!"

Ulir-ulir perunggu yang njlimet dan kap belingnya yang rapuh cukup mengerjai saya. Pelan tapi pasti, kelima lampu tersebut bisa bersih dan nampak makin ciamik. Tak heran, Ayah saya begitu mencintai lampu-lampu ini, pikir saya.

Kegiatan sederhana tapi juga maharibet ini membuat saya sadar bahwa Tuhan sudah sedemikian baiknya memberikan karunia lampu-lampu ini. Sudah sepatutnya saya merawatnya dengan baik sebagai wujud syukur saya atas semua kebaikanNya yang tak pernah absen dalam tiap detik hidup saya.

Ngopeni berkah.

Frase yang kerap terlontar dari mulut Ayah saya menjadi lebih bermakna di sanubari sekarang.
Teruntuk Papa di Rumah Barunya: semoga kau bangga padaku.

posted under | 0 Comments

Perempuan Bernama Suryati Purba

"Citra Pendidikan selanjutnya temanya tentang Valentine. Nah, kau bikin lah tulisan tentang itu. Lusa kau kasihkan ke aku." Kira-kira begitulah sepenggal kalimat imperatif yang dituturkan seorang Suryati Purba kepada saya di masa SMA.

Alm. Suryati Purba, sosok perempuan perkasa yang saya kagumi. Seorang guru Bahasa Indonesia yang bisa melihat saya yang "tak terlihat" pada waktu itu.

Dia perkasa karena bisa tetap mengajar seiring dia berjuang menghadapi kanker yang dideritanya. Tak jarang dia berkata bahwa dia masih cantik dan seksi walaupun kemoterapi membuat kulitnya menghitam. "Masih bisanya aku dapat daun muda, tapi kasian Bapak Abby (suami Bu Suryati) di rumah," katanya suatu kali pada saya sambil membetulkan letak wig di kepalanya.

Bisa dikatakan bahwa masa SMA adalah masa yang cukup muram buat saya. Memasuki masa di mana saya belum lama kehilangan Ayah. Segala sesuatunya serba tak menentu saat itu. Financially? Jangan ditanya. Saya kerap pergi atau pulang berjalan kaki dari Senen ke Tanah Abang atau sebaliknya karena tak ada ongkos. Mentally? Nyusruk. Insecure, low self esteem, dan ajektiva sejenis bisa dijejerkan di sini. Singkatnya saya adalah remaja yang "tak terlihat" oleh sekelilingnya. Prestasi akademis masuk kategori standar, prestasi sosial, nihil. Semacam burung unta yang terus membenamkan kepalanya di dalam tanah, lah, kira-kira.

Ibu Suryati, satu-satunya sosok yang bisa "melihat" saya. Suatu hal yang tidak dinyana-nyana kalau boleh jujur. Saat dia memerintahkan saya untuk menulis untuk koran sekolah saat itu, saya cuma bisa melongo dan berkata, "kenapa saya, bu?" Dengan tegas dia menjawab: "karena aku mau kau yang buat." Singkat dan tak terbantahkan.

Saya serahkan artikel yang dia kehendaki lusanya. Di ruang guru yang sepi saat itu, menjelang waktu pulang sekolah, Bu Suryati menyambar kertas yang saya sodorkan seraya berkata "tulisan-tulisan kau selama ini bagus. Kau kembangkanlah talenta kau itu. Biar ada bangga alm. bapakmu di sana." Dipandangnya lekat mata saya saat itu. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih seraya pelan beringsut keluar.

Terima kasih, Bu Suryati. Selamanya engkau di hati.

posted under | 0 Comments

The Golden Rule

Siang tadi saat istirahat makan siang, saya terlibat suatu percakapan asyik dengan dua kawan kerja saya. Tema pembicaraannya adalah suatu hal yang akan terus ada sampai semesta berakhir: perselingkuhan.
Mengapa saya katakan akan terus ada? Karena menurut saya selingkuh itu pilihan. Apapun alasannya. Sebut saja kebosanan terhadap pasangan, CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali), ketidaksengajaan, ketidakpuasan terhadap pasangan, LDR (Long Distance Relationship, atau apalah itu, you name it, tetap saja kesemuanya berujung pada pilihan. .
.

Cinta dan Mencintai, nomina dan verba multidefinisi dan multipersepsi yang mengandung nilai pertanggungjawaban yang tidak ringan, apalagi minim konsekuensi.
Simpulan kasar saya tadi berdasar pada beberapa kasus perselingkuhan yang kami bahas siang tadi. Hidup itu pilihan, memang tak bisa dipungkiri. Pilihan seorang atas hidupnya pun tak bisa serta merta kita hakimi. Tapi ketika semua permasalahan dalam hubungan harus bermuara pada perselingkuhan, saya harus nyinyir, mengingat bahwa ada pelaku dan korban dari aktivitas tersebut yang sejatinya bisa dihindari.

Hanya 3-5% hewan ciptaan Tuhan yang monogami. Di antaranya elang, laba-laba Argiope Aurantia, dan buaya. Sedihnya, Homo saphiens (manusia), primata tertinggi, tidak termasuk dalam kategori tersebut. Fakta yang tidak bisa diubah atau... Ah, entahlah.

Sebagai manusia yang penuh harap, saya hanya bisa berdoa agar pilihan apapun yang kita ambil dalam hidup kita di masa yang akan datang bukanlah pilihan yang berlandaskan pada sesuatu yang cenderung dicari-cari alasannya. Lebih dari itu, lebih berlandaskan kepada pilihan yang tidak menyakiti orang lain. "Do unto others as you would have them do unto you.” Simpan dan ingat golden rule ini dalam sanubari yang paling dalam.


posted under | 0 Comments

Kupu-kupu atau Laba-laba?


Salah satu kawan belajar saya, anak perempuan 10 tahun,  siang ini tiba-menarik tangan saya seraya bertanya:
"Miss tau, nggak, kalau ada kupu-kupu yang terperangkap di sarang laba-laba, orang akan cenderung menolong kupu-kupu itu walaupun mungkin si laba-laba belum makan selama berhari-hari.”

Terperangah dan agak mlongo, saya berkata "Apa maksudmu? Tidak bisa langsung disimpulkan, dong. Harus ada pengamatan lebih lanjut."

Ia langsung menyambar, “Iya, miss, aku tau. Tapi gimana kalau yang terperangkap itu adalah ulat yang belum jadi kupu-kupu? Yang masih jelek dan belum punya sayap warna-warni. Orang tetep akan nolong, nggak? Kenapa, sih, miss, harus cantik supaya ditolong? I wish that people could see the beauty in me..." ujarnya lirih.

"Let me tell you one thing, you can't control what happens to you but you can control how to react to them," Hanya sepenggal kalimat yang bisa saya sampaikan kepadanya saat itu. Bel penanda waktu makan siang berbunyi, si anak langsung melengos pergi.

Sekali lagi, saya dididik, diingatkan, dan dibuat takjub oleh seorang anak, bahwa hidup adalah sekumpulan kekecewaan yang niscaya menjadikan kita jadi lebih baik. Doaku untukmu, Nak, supaya kau jadi bentukan yang senantiasa membanggakan. Ohya, satu hal yang pasti, you are beautiful!



posted under | 0 Comments

Musisi atau Penyair?

Pertanyaan serupa bisa diajukan kepada artis-artis mumpuni kelas dunia.
Misalnya saja ketika untuk pertama kalinya Michael Jackson menyajikan "Moon Walk" nya yang fenomenal itu, secara serta merta timbul pertanyaan, apakah penonton terbuai oleh tariannya, nyanyiannya, komposisi musiknya, atau koreografi panggungnya?

Tidak bisa dipungkiri, berkreasi pada tingkat tertentu akan menyajikan perdebatan mengenai kategorisasi genre karya seni tersebut. Secara awam dan sederhana, saya mengkategorisasikan karya Dylan sebagai perenungan dalam yg termanifestasikan melalui lirik dan harmonisasi yang tidak biasa atau bahkan kadang "nyeleneh." Kedua unsur tadilah yg membuat saya memiliki citraan sinematik di kepala setiap mendengar karya Dylan.

"Just Like Tom Thumb's Blues", salah satu balada naratif berdurasi 4.5 menit yang mampu membawa saya ke dalam potongan dunia yg belum pernah saya injak bahkan lihat sekalipun.

Berikut lirik-liriknya yang tercipta secara jenius, setidaknya bagi saya,
"When you're lost in the rain in Juarez/ And it's Eastertime too" "Sweet Melinda, the peasants call her the goddes of gloom/ She speaks good English and she invites you up into her room/  And you're so kind/ And careful not to go to her too soon/ And she takes your voice and leaves you howling at the moon."

Entah kenapa, saya pun sangat menyukai untaian nada dalam lagu ini, terutama cara Dylan melakukan pemenggalan dan pungtualisasi pada lirik:
"About someone named Angel/ Just arrived from the coast, who looked so fine at first/ But left looking Just. Like. A. GHOST!"
yang membuat saya langsung ingin bercermin dan mengecek, apakah saya pun terlihat seperti hantu.

Konon, tugas sejati seorang seniman berhenti pada saat "buah hati" nya terlahir, dan menyerahkan tugas selanjutnya (baca: interpretasi) kepada para penikmat karya seni tersebut. Pendek kata, interpretasi karya seperti karya Dylan pun bebas dan luas adanya.

Bagi saya, Nobody Sings Dylan Like Dylan. Apa dan bagaimana interpretasi makna keindahannya, terserah anda.
Salam damai dan banyak cinta buat anda semua (",)

posted under | 0 Comments

Urap Jagung: Awal dari Tindakan yang Tak Pernah Mudah

                       

Tidak seperti yang diperkirakan, gas di rumah
memutuskan berhenti melakukan dayanya dengan anggun saat dia dibutuhkan. Minggu siang yang cukup terik, membuat saya malas untuk keluar rumah untuk menukar (membeli) tabung gas yang baru. Tapi apa daya, saya harus keluar menuju warung terdekat supaya keberlangsungan masakan sederhana saya bisa pungkas dan bisa dikonsumsi.

Malam sebelumnya, saya disuguhi beberapa unggahan di media sosial yang seperti kita tahu bisa sangat menyita perhatian dan waktu. Dari sekian banyak unggahan, beberapa membuat saya manyun-manyun sendiri. Di penghujung liburan kenaikan kelas, di saat dompet saya sudah dalam taraf "meraung" dan mengharuskan saya memaknai keprasajaan dengan indah, beberapa unggahan menggelitik saya untuk merajuk dan meminta pada Yang Kuasa untuk meluberkan pundi-pundi rezeki saya. Bagaimanapun, saya manusia biasa yang ingin plesiran, makan enak, dan menikmati liburan seperti orang kebanyakan. Tak dinyana, semua kedongkolan tersebut dijungkirbalikkan keesokan harinya.

Kembali ke Minggu siang yang terik itu, tibalah saya di depan warung. Berbekal uang seratus ribu rupiah yang terlipat rapi, yang sebelumnya saya selipkan dalam dompet untuk keadaan mendesak, saya jalani niat untuk menukar (membeli) tabung gas berwarna hijau mentereng yang saya butuhkan saat itu. Saat berbalik arah hendak kembali ke rumah, perhatian saya tersita oleh sebuah gerobak kecil beroda dua berwarna merah kuning yang saat itu sedang dikerumuni oleh sejumlah orang, tua, muda, dan anak-anak. Perut yang mulai memainkan musik destruktif pun mendorong saya untuk mendekati kerumunan tersebut. Sesosok pria yang tak lagi muda terlihat sibuk menyendok dan mewadahi butiran-butiran jagung yang kuning menggoda ke dalam bungkus plastik mika. Kemudian si Bapak menaburi parutan kelapa gurih dan gula pasir ke atas onggokan jagung tersebut dengan luwes dan lihai. Aha! Urap jagung yang kerap saya beli waktu saya kecil dulu ternyata masih bisa dijumpai, tersuguh cantik di depan saya.

Senyum lebar tersungging di bibir saya dan mengantrilah saya dengan manis menunggu giliran.
"Dua bungkus, Pak. Satu nggak pake gula, ya," ujar saya dengan mantap.

Dengan sigap si Bapak menyiapkan pesanan saya, lengkap dengan sepotong kecil janur yang Ia siapkan untuk digunakan sebagai sendok.
"Jadinya 10 ribu, neng," tukasnya saat rampung membungkus.
Seraya menyerahkan uang, saya memulai percakapan,
"Banyak juga ya, Pak, jagungnya."
"Iya, neng. Semua harus habis sebelum Maghrib." Ujarnya.
"Kalau tidak habis lalu bagaimana Pak?"
"Ya saya makan sendiri, neng. Buat makan malem. Kalau sisa banyak ya saya bagi ke tetangga. Daripada mubajir." Jawabnya seraya menyerahkan uang kembalian.

Tertohok dan tertampar adalah diksi yang paling tepat untuk mewakili perasaan saya saat itu. Bagaimana tidak, seorang Bapak tua yang hanya memiliki sejumlah uang dalam laci gerobak kecilnya mampu mensyukuri berkat bahkan memberi kepada sesamanya saat dagangannyaa sedang tidak menguntungkan. Ya, saya malu saat itu. Malu karena takluk pada kedongkolan saya malam sebelumnya.

Bapak penjual urap jagung dan sikap hidupnya membuat saya terperangah. Ia telah menjadi bukti nyata dari definisi kurang atau miskin yang pernah dituliskan oleh Romo Mangun (Y B Mangunwijaya): "Miskin masa kini sudah tidak lagi hanya soal kekurangan uang, akan tetapi karena tidak mahir membuat pemilihan-pemilihan."
Dengan kata lain, saya miskin atau tidak bahagia karena saya tidak mahir membuat pilihan. Dalam hal ini memilih untuk bersyukur.
Sah sudah, Bapak penjual urap jagung adalah manusia terkaya yang pernah saya jumpai dalam hidup.

Bersyukur. Sikap yang tidak dilahirkan dalam keberuntungan, barangkali. Tak mudah dilakukan, tak mudah dimaknai, tak mudah pula dipahami. Seiring berjalannya waktu dan tuntutan menjadi dewasa sebagai konsekuensinya, semakin saya tersadar bahwa hidup dan pilihan-pilihan di dalamnya adalah suatu sikap, dan tak kesemuanya harus dipahami oleh orang lain yang tiada bisa memahaminya.
Akhir kata pada diri sendiri, "Shame on You, Niken!"



posted under | 0 Comments

Kisah di Hari Biasa



Beberapa hari yang lalu, anak-anak, kawan belajar saya, dihebohkan oleh kehadiran Moth (sejenis kupu-kupu) yang hinggap dengan anggunnya di pojok luar ruang kelas kami. Serta merta mereka menarik saya keluar kelas untuk berbagi ketakjuban mereka saat itu.

Setelah cukup puas menatap dan menandak-nandak atas reaksi kegembiraan mereka, kami pun kembali memasuki ruang kelas dan melanjutkan aktivitas. Tak ayal, kehebohan mereka tak berhenti begitu saja. Komentar terus berhamburan selama hari itu berlangsung. Tak sedikit dari mereka bahkan mengetahui fakta bahwa Moth mengalami metamorfosis seperti layaknya kupu-kupu.
Yang mengejutkan adalah ketika salah satu mereka berkata bahwa Moth tersebut hanya butuh waktu untuk hinggap sejenak dan beristirahat. Ia lelah karena harus terus berubah sampai ia bisa seindah itu.

Senyum kebanggaan merekah seketika.
Ya. Memang betul, nak.
Jangan berhenti berjuang, karena kepintasan dan ketergesa-gesaan hanya akan membuat kita menjadi manusia-manusia prematur. Yakinlah bahwa selalu ada makna dan keindahan dalam setiap peristiwa kehidupan, karena rasa sakit mustahil ditiadakan.

posted under | 0 Comments

"Perjalanan/Kereta Malam"

Setelah mendengarkan beberapa karya emas mereka, menurut saya inilah balada terbaik yang "dilahirkan" Franky & Jane Sahilatua, duo kakak beradik yang belum ada tandingannya di ranah musik Indonesia (sekali lagi, menurut saya).

Sekadar opini awam kelas teri nasi dari saya yang semata-mata menikmati setiap harmonisasi sederhana namun lugas, yang terkandung di dalam lagu ini. Jelas jika opini ini jauh dari perspektif musikal ndakik-ndakik bin njlimêt (kelas kakap jumbo).

Saya harus berterimakasih pada sosok ibu Esther Soebarkah (ibu saya) yang pertama kali (dan cukup sering sesudahnya) membiarkan lagu ini terdengar secara ciamik di telinga saya melalui mini compo miliknya.

Tidak hanya balada Franky & Jane tetapi juga karya-karya apik dalam dan luar negeri, mulai dari keroncong, langgam-langgam Jawa, seri kaset cerita anak, seri kaset Wayang Kulit, dan juga lagu lainnya yang cukup hits pada waktunya (tentu saja menurut selera Ayah dan Ibu saya yang bisa dibilang biasa saja).

Adapun, alasan ibu saya menyetel mini componya hampir setiap pagi untuk saya amat sangat sederhana bahkan cenderung konyol. Bukan karena alasan supaya anak bungsunya terbiasa dengan berbagai genre musik atau agar saya bisa mengapresiasi karya seni secara baik dan benar. Bukan.
Hanya sekadar agar saya (saat itu belum usia sekolah) bisa duduk manis dan antêng setelah mandi, menikmati sarapan yang kadar kelezatan menunya tergantung dari tua/mudanya tanggal.

Percaya atau tidak, metode ibu saya ini teraplikasi sangat baik. Saya, yang biasanya coreng-moreng dengan lotion anti gatal biang keringat (baca: Caladine lotion, sungguh bukan iklan), bisa duduk manis mendengarkan lagu-lagu, sambil mengunyah cenderung memamah biak setiap menu sarapan yang disodorkan. Ibu saya? Ia bisa dengan lantjar djaya membereskan tugas-tugas kerumahtanggaannya tanpa gangguan usil seorang anak perempuan gendut yang menyebalkan (yakni: sahaya).

Alkisah, suatu hari, sekonyong-konyong dan mak bedunduk, bu Esther menyetelkan lagu berjudul "Perjalanan/ Kereta Malam" yang secara absolut membuat perhatian saya tersita sejak saat pertama kali mendengarkannya. Suara cempreng-merdunya Jane Sahilatua dan alunan musik bernuansa lirih dalam lagu ini sukses membuat saya mimblik-mimblik alias sedih. Apakah lirik lagu ini membuat saya juga merasa mellow-mellow marshmallow? IYA NGETZ!
Demikian liriknya:

Dengan kereta malam ku pulang sendiri
Mengikuti rasa rindu
Pada kampung halamanku
Pada ayah yang menunggu
Pada ibu yang mengasihiku

Duduk di hadapanku seorang ibu
Dengan wajah sendu, sendu kelabu
Penuh rasa haru ia menatapku (2x)
Seakan ingin memeluk diriku

Ia lalu bercerita tentang
Anak gadisnya yang telah tiada
Karena sakit dan tak terobati
Yang wajahnya mirip denganku

Belum lagi ditambah dengan suara mevrouw Esther yang terkadang lamat-lamat turut mendendangkannya. Suaranya, sih, biasa saja, tapi entah kenapa bisa membuat saya makin terseret ke nuansa kepedihan dan kesedihan lagu ini. Sadar atau tidak, lagu ini mengantarkan saya pada proses memaknai tema "kehilangan orang terkasih" sedari dini.

Setelah saya bertambah usia, seiring dengan cukup laknatnya deraan pengalaman "kehilangan" dalam hidup, semakin pula mantap memutuskan untuk tidak ragu menyatakan pada orang-orang terkasih, bahwa saya amat menghargai keberadaan mereka dalam hidup saya, lengkap dengan segala manis-pahit-getir yang mereka sertakan.

Mumpung masih diberi waktu oleh Yang Maha Kasih, dekaplah, peluklah, ciumlah, dukunglah, semangatilah, senyumilah, dan yang terpenting doakanlah orang-orang yang kita kasihi. Rayakan setiap pertemuan, syukuri setiap perpisahan, Maknai setiap kehilangan. Karena hidup senantiasa memberikan pengalaman "kehilangan" tanpa pertanggungjawaban. Bisa sekarang, besok, atau lusa.
Mengutip perkataan seorang kawan, "setabah apapun kamu, pertemuan adalah gerbang menuju perpisahan. Terima saja, bahagia ada untuk menjemput kesedihan."

Teriring salam dan doa yang niscaya bisa menghangatkan malam dingin ini. Semoga saja.

posted under | 0 Comments

From Zero to Hero

Konon, bangsa Mesir Kuno percaya bahwa sebelum memasuki pintu Surga, setiap mereka akan diberi dua pertanyaan, “Sudahkah menemukan kebahagian dalam hidup?” dan “Apakah hidupmu membawa kebahagian untuk sekitarmu?”
Pertanyaan pertama mungkin bisa dijawab dengan mudah melalui serentetan kejadian hidup yang jika dituliskan bias melebihi jarak Jakarta-Depok, misalnya. Tetapi menjawab pertanyaan kedua, setidaknya bagi saya dan mungkin sebagian besar manusia, bukkanlah perkara semudah menghitung jemari tangan dan kaki.

Kebahagian untuk sekitar, cakupannya cukup luas, bukan? Seluas-luasnya lima benua, jika kita punya niat dan usaha, pasti akan tereksplorasi dengan mudah dan tak ayal menyenangkan. Percaya atau tidak, itu yang saya rasakan.
Memberi makan dan mencukupi kebutuhan tujuh anak kaki empat di rumah saya, contohnya. Kerugian materi? Lebih dari cukup. Kelelahan fisik dan emosionil? Jangan ditanya. Tapi itu semua tidak terasa berat karena yang saya berikan untuk mereka belumlah cukup untuk menggantikan semua yang telah mereka berikan buat saya. Sebagian teman, kerabat, bahkan keluarga menganggap bahwa “memelihara” tujuh anak kaki empat tersebut merupakan keputusan terbodoh yang pernah saya buat dalam hidup. Seperti yang selama ini saya lakukan sampai sekarang setelah mendengar tanggapan seperti itu, saya hanya tersenyum seraya menjawab, “Saya bahagia dengan keputusan saya karena mereka mendatangkan kebahagian buat saya.”

Banyak hal dalam hidup memang tidak mudah terpahami. Tidak perlu memaksa diri untuk menyetujui tindak serupa, memahami pun sudah lebih dari cukup. Memahami bahwa kata others dalam kalimat “Treat OTHERS like the way you want to be treated”, mencakup semesta dan segala isinya.

Secara khusus, individu yang mau mengorbankan hidup dan penghidupannya untuk kebahagian pihak lain patut diberi label Hero alias pahlawan. Individu seperti Alberthine Endah, Melanie Soebono, dan Doni Herdaru Tona, sama perkasanya seperti ksatria berbaju zirah, walaupun mereka tidak memiliki atribut dan kesaktian yang kasat mata. Atribut mereka tidak lebih dari keberanian dan kasih tulus yang bias mengatasi segala perkara.

Pertanyaan selanjutnya, “Apakah kita bisa menjadi seorang pahlawan seperti mereka?’ TENTU SAJA!!! (3 exclamation mark memarkahi keyakinan saya)

Di sela kesibukan keseharian, kita masih bisa, kok, menunjukkan bahwa kita peduli kepada sekitar, kepada hewan-hewan domestik pada khususnya, misalnya:
1.   Mengikuti kegiatan komunitas pencinta satwa.
2.   Mendonasikan sebagian uang dan (atau) tenaga, atau keahlian sekecil apapun ke pihak-pihak yang peduli pada satwa.
3.   Membagikan informasi-informasi penting terkait kesejahteraan dan keselamatan satwa (baca: membagi tautan mengenai hewan domestic yang siap adopsi, butuh bantuan materi untuk makan dan kebutuhan medis, dll).
4.   Membuka mata teman dan kerabat serta mengajak mereka untuk ikut peduli pada satwa, melalui diskusi ringan, tulisan lepas di blog, atau sekadar status (retweet) di media social yang sudah sedemikan mudahnya diakses di manapun, kapanpun.
5.   Mengisi tas kita dengan sejumput-dua jumput cat food dan (atau) dog food untuk dapat diberikan kepada sohib kaki empat yang kita jumpai.


Contoh-contoh di atas baru sebagian kecil hal yang bisa kita lakukan untuk jadi seorang pahlawan. Tidak sulit, kok, asalkan kita punya niat. Sepele di mata kita sebagai manusia, tapi besar dampaknya buat hidup sobat satwa kita, khususnya hewan domestik yang masih banyak berkeliaran dengan segala penolakan dan deraan hidup yang demikian keras. Usaha sekecil apapun bisa meringankan penderitaan mereka dan memberikan kondisi lingkungan yang sesuai buat mereka. Kesejahteraan yang saya maksud merupakan Animal welfare yang mencakup:: freedom from hunger and thirst, freedom from thermal and physical discomfort, freedom from injury, disease and pain, freedom to express most normal pattern of behavior, dan freedom from fear and distresss.

Sudahkah membawa kebahagian untuk sekitarmu?
Sudah jadi pahlawan?
Resapi, maknai.


posted under | 3 Comments

Sesuatu Yang Tidak Butuh Penjelasan

Semenjak kepergian ayah saya -kurang lebih 14 tahun yang lalu- semarak menjelang sahur di lingkungan tempat saya tinggal selalu meninggalkan kesan tersendiri. Tetabuhan bedug dan hingar bingar dari TOA Mesjid selalu mengingatkan saya pada saat mobil ambulans membawa pulang ayah saya yang sudah terbujur dalam peti  jenazahnya. Tanpa ragu saya menyatakan bahwa ketidaknyamanan hinggap di perasaan saya ketika bunyi-bunyian itu mulai membahana.

Penjelasan logis akan hal itu telah saya dapatkan setelah saya membaca tulisan-tulisan yang membahas efek traumatis terhadap psikis seseorang yang pernah merasakan kehilangan seseorang yang cukup bermakna buat hidupnya. Sedapat mungkin saya mencoba untuk tidak “memanjakan” perasaan saya dan berusaha untuk menerapkan tips-tips yang tertera dalam tulisan sejenis agar saya dapat mulai perlahan-lahan menganggap momen semarak menjelang sahur itu menjadi momen yang “biasa” atau -paling tidak- menjadi momen yang tidak terlalu membawa dampak mood swing ke arah yang boleh dikatakan cukup gloomy. Namun, sekeras apapun saya mencoba, dampak yang tidak saya inginkan tersebut tetap menyambangi setiap Ramadhan tiba.
Sebagian kawan dan kerabat berpendapat bahwa ketidakikhlasan saya atas kepergian ayah saya lah yang membuat efek psikosomatis itu menjadi tamu tetap dalam kehidupan saya. But then again, siapa sih yang bisa ikhlas membiarkan seseorang yang sangat dikasihi pergi begitu saja dan tak kembali lagi? Sekadar pembelaan pribadi yang muncul dalam benak saya setiap pendapat sejenis mampir ke telinga saya.

Masih terkait dengan hingar bingar menjelang Sahur yang sudah saya singgung, masih ada beberapa hal lagi yang membawa efek yang “nggak yo’i” terhadap perasaan saya; di antaranya suara sirene ambulans dan atau sirene motor foraider yang kerap saya dengar di jalan-jalan yang saya lalui, suara bongkahan-bongkahan tanah yang menimpa peti jenazah saat prosesi pemakaman, suara cangkul/sekop yang mengenai tanah makam yang sedikit demi sedikit mulai menimbun raga yang tak lagi bernyawa, dan juga suasana tutup peti dalam suatu ibadah pelepasan di rumah duka, lengkap dengan suara isak tangis dan dendangan lagu-lagu yang menyertainya.
Satu hal yang pasti -mau tidak mau- suara-suara dan suasana semacam itu akan kerap saya jumpai selama saya masih jadi penduduk bumi yang menurut orang bijak, fana. Hal tersebut menuntut saya untuk -mau tidak mau- kembali  menganggap hal-hal tersebut menjadi suatu hal yang “biasa” atau hanya sebagai  een rimpel in dee ocean‘riak kecil di permukaan samudera luas’.  

Sampai saat ini saya telah menyaksikan bagaimana sang Kuasa bekerja dengan caraNya yang ajaib untuk memampukan saya mengatasi perasaan tidak nyaman setiap saya menjumpai hal-hal yang telah saya sebut tadi. Seiring dengan ketakjuban saya terhadap Kasih dan Kuat Kuasa yang hanya bersumber dariNya, saya juga memohon kepadaNya agar saya tidak perlu terlalu sering menghadapinya, at least tidak dalam waktu dekat.

Coretan ala kadarnya, yang kebetulan dibuat  bertepatan dengan HUT ayah saya yang ke-67 (Agustus 2011).


posted under | 0 Comments

harap sang kera buruk rupa

menilik rongga yang seharusnya bisa kukuh
mengelupas lapis demi lapis
permukaan halus kain berwarna rubi yang
biasanya menantang, tersingkap,
sekarang terkulai merana

menyusup keluar, lolos laksana raib
setiap penopang yang ada
merelung dan mengais iba setiap mata yang melihat walau hanya sekelebat

kera buruk rupa, lompat dari stupa ke stupa
mencari peraduan yang nyaman, yang bisa menaungi dari deraan dunia
kera buruk rupa melompat dari satu relief ke relief lainnya
mencari caila, gunung yang ia rindukan
menjulang tinggi penuh kemegahan

ingin segra menuju alam antara
mengawali langkah dari lapik, menuju ke pelipis bawah dan atas, sampai ke pelipit
mengerang menahan lara yang akan berujung keindahan
bibir terkatup rapat
hati bersikap doa
semoga
dan semoga.

posted under | 0 Comments

Sedu Sedan Sore

Menekuk lutut tanda tak mampu menahan gemuruh seru yang menggerogoti kelapangan dada.
Menggayutkan asa menembus dinding keblangsakan prana.
Menggelar permadani yang tak pasti tak akan bisa membawaku terbang layaknya dongeng negeri seribu satu malam.
Prengus dan busuk dunia mengrenyitkan setiap dahi makhluk yang mencium aromanya, walau enggan mengakuinya.
Terperangah akan setiap kejutan tak menyenangkan yang sejatinya merupakan susunan kebodohan demi kebodohan yang meninggi dengan sendririnya.
Apa yang dicari ku tak tahu.
Lengkung dahan berayun perlahan mengelangutkan suasana yang sudah bertahun tak lagi terang.
Lambaian daunnya menimbulkan berjuta tanya, sampai kapan sang Maha sanggup menjadi pemelihara semesta yang tak lagi mengirimkan puji dan sembah padanya.
Suksma bergetar mengindera setiap rasa pahit-getir yang mengalahkan pahit-getirnya empedu mana pun yang pernah ada.
Tersungkur dan tak berdaya, adanya ku tak bisa lepas dariMu. Tak kan bisa lepas dariMu.

posted under | 0 Comments

YA, TIDAK, dan BELUM SAATNYA


YA, TIDAK, dan BELUM SAATNYA.
Tiga jawaban dari permohonan kita kepadaNya.
Apapun jawabanNya untuk kita, saya -paling tidak- selalu berusaha mengimani bahwa semuanya itu baik.
Apa yang telah dan akan Ia perbuat dalam hidup saya adalah yang terbaik.

Reaksi kita atas jawaban yang tidak sesuai dengan harapan (baca: keinginan) kita, benar-benar menuntut keikhlasan yang teramat sangat.
Namun bila kita imani bahwa jawaban itu merupakan yang terbaik buat kita, niscaya rasa tenang dan damai menyusup ke hati.

Karena penyertaan dan janji setiaNya sungguh tiada banding. SEMPURNA.
Saya, anda, kita semua sedang dibentukNya, agar menjadi lebih indah seturut gambar diriNya.
Saya pun yakin bahwa bersamaNya saya dapat menanggung segala perkara.
Saya adalah pemenang dalam setiap perkara.

Saya percaya Dia akan berikan yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, tak pernah timbul dalam hati, dan yang tak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya.
Hal-hal luar biasa telah disiapkanNya untuk saya.
Saya hanya tinggal berserah, percaya, dan terus bersyukur.

If i call Him, He will answer me.
If i run to Him, He will run to me.
If i  lift my hands, He will lift me up.
If i draw near to Him, He will be here with me.
Give Him my love, He’s in love with me.
He will heal my heart, He will cleanse my soul.
Sing, sing for joy, to God, my strength.
Jadilah padaku seperti apa yang KAU ingini. 

posted under | 0 Comments
Postingan Lama Beranda

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

niken adiana wiradani soebarkah
perempuan sederhana yang masih selalu dalam proses belajar, dan sangat percaya akan kekuatan kasih.
Lihat profil lengkapku

Cari Blog Ini

Followers


Recent Comments