tempat matahari bertemu dengan ujungnya.

Lebar,  Selebar jangkauan tangan kurengkuh
semua mimpi dan harap
kujaga semuanya, bahkan hal yang tak sempat terucap

sepeluk sarat makna yang tak ingin kulepas begitu saja
senyum menghiasi wajahku yang katamu makin pucat
masakan Yang Maha Kasih ingin kita saling melupakan?

duduk bersila di tengah rerumputan bunga
menunggumu dalam diam, seraya menikmati harum sekar yang buatku semakin terjaga
kekasih, aku tak tahu kapan semesta mengizinkan kita bersua
yang kutahu, jika saat itu tiba, rasa kita akan selalu ada

masakan Yang Maha Hidup ingin itu mati tanpa lagu ?
begitu saja?

sampai kapan kau mau menunggunya pulang?
sampai petikan gitar tak lagi bermelodi
sampai semesta mengizinkanku bersua dengan penuai rinduku di situ,
di jalan itu,
tempat matahari bertemu dengan ujungnya.



posted under | 0 Comments

Kepalang Tanggung

Sudah kepalang tanggung
memang tak seharusnya ini dibendung

Lebih kepada kenyataan bahwa setiap awan menampung kenangan yang akan selalu bermurah hati untuk mencurahkannya saat musim hujan bertandang.
Seperti hari ini, kemarin, dan hari-hari sebelumnya, hujan kembali datang.
Tak ada pilihan, ku menari di antara tiap pelukan rintik yang sakit.

Sebaiknya memang jangan terlalu lelap tertidur, setidaknya berjaga.
Karena siapa nyana, ketukan tanda pulangmu menyeruak di antara embun esok pagi.

posted under | 0 Comments

Memaknai Kebahagiaan

Diakui atau tidak, kebahagian memang sangat beragam bentuknya dan relatif nilainya. Nilai kebahagian seorang petani tentu sangat lain dengan nilai kebahagiaan seorang diplomat yang sering terbang ke berbagai negeri. Singkatnya, setiap individu memiliki referensi yang berbeda dalam memaknai kebahagian dan ketidakbahagiaannya.

Lantas, kalau kita sudah bisa mencapai kebahagiaan yang diinginkan, masih ada pertanyaan lebih lanjut; Apa yang bisa kita dapat dari kebahagiaan itu sendiri? Tidak jarang saya malah tidak tahu apa yang sudah saya dapatkan dari bentuk kebahagiaan yang pernah saya rasakan. Namun terkadang, saya malah mendapatkan sesuatu yang berharga dari sebuah peristiwa yang diberi label kesedihan oleh manusia kebanyakan.

Hermann Hesse (2 Juli 1877 - 9 Agustus 1962), penyair dan novelis peraih Nobel asal Jerman, dalam puisinya yang berjudul "Kabahagiaan" menyatakan bahwa:

Selama engkau mengejar kebahagiaan, engkau belum matang untuk berbahagia
biarpun milikmu segala kesayangan.

Selama engkau mengeluh karena ada yang hilang dan punya tujuan serta tiada tenang, kau belum tahu apa arti kedamaian.

Baru setelah engkau lepaskan segala keinginan, tak kenal lagi hasrat dan tujuan, tak lagi menyebut nama kebahagiaan, maka banjir segala kejadian tak lagi menyentuh hatimu, maka jiwamu akan tenang.

Barangkali saja kutipan puisi tadi bisa menjadi pengatar untuk kita berkontemplasi di tengah realitas dunia yang semakin sarat dengan keambiguan.

Akhir kata, apapun bentuknya, jangan lupa dekap kebahagiaanmu.

posted under | 0 Comments

Terbang Pulang

Hari ini saya dipertemukan untuk ketiga kalinya dengan film berjudul "Fly Away Home" (1996). Film ini mengisahkan persahabatan Amy Alden, diperankan sangat apik oleh Anna Paquin, dan 16 ekor angsa. Ia menemukan telur-telur di dekat rumah ayahnya, yang
terlantar saat hutan dekat rumah mereka dirayah oleh buldozer.

Amy yang sedang berduka karena baru saja ditinggal oleh ibunya yang meninggal dunia karena kecelakaan, harus beradaptasi ketika ia harus tinggal bersama ayahnya di Kanada.
Ikatan emosional antara Amy dan angsa-angsa kecil, yang ia tetaskan di gudang milik ayahnya, menjadi titik kekuatan film ini. From the way i saw it, Amy menemukan gairahnya kembali setelah beberapa saat merasa kebas dan tak paham tentang semua yang telah terjadi.

Permasalahan muncul ketika menjelang waktu migrasi angsa dari Kanada ke Amerika Serikat di musim gugur. Angsa-angsa itu belum bisa terbang.
Tom, ayah Amy, yang juga tengah bergelut dengan penemuannya, yakni mesin terbang sederhana, mempunyai ide untuk
mengajari angsa-angsa itu terbang dan mengarahkan mereka bermigrasi ke selatan. Dengan apa? Mesin terbang temuannya itu.

Cerita mengalir, mulai dari kesulitan teknis dan nonteknis sampai akhirnya Amy sanggup mengantarkan angsa-angsa tsb sampai North Carolina. Seolah mustahil jika dilakukan oles seorang remaja berusia 14 tahun, but she did it.

In my humble opinion, film ini sangat layak tonton dan personally saya tidak merasa bosan untuk menontonnya lagi dan lagi. Alunan lagu "10,000 Miles"yang dinyanyikan oleh Mary Chapin Carpenter dalam film ini menambah daya pikatnya.

Melalui film ini ada satu pesan yang harus berulang kali saya ingat: to achieve the incredible, you have to attempt the Impossible.

posted under | 0 Comments

Rumah Kakung-Uti

Pernah tertulis bahwa hidup adalah perjalanan untuk membangun rumah untuk hati. Mencari penutup lubang-lubang kekecewaan, penderitaan, ketidakpastian, dan keraguan.
Buat saya, rumah ini salah satu saksi bisu atas pencarian tersebut.
Adalah sebuah rumah tua di Salaman-Magelang, yang berdiri kokoh sampai sekarang hanya oleh karena rahmat Sang Maha Hidup.

Satu hal yang terpatri di hati ketika memandang rumah ini, "Mung Katresnan Kang Mbangun Brayat." Percayalah, kasih itulah yang membuat rumah tua ini menjadi sedemikian eloknya.

Teruntuk yang terkasih alm. Kakung dan Uti, terima kasih karena pernah menemani kami semua menata hati dan mengolah rasa di rumah ini.
Kasih; nama lain dari sebuah rumah.
Tak banyak yang saya minta selain izin untuk selalu pulang lagi.

posted under | 0 Comments

Mumpung

Sepanjang 2016 kemarin, banyak sekali yang pergi mendahului kita. Baik yang dekat di hati, yang teramat kita kasihi, atau sekadar orang yang kita kenal begitu saja.
Apapun dan bagaimanapun posisi mereka di hati kita masing-masing pastilah telah menorehkan gambar tersendiri di lini masa hidup kita, sedikit/ banyak, gelap/terang, berwarna/cenderung monokromatik.

Saya, sebutlah dengan label apapun yang kalian kehendaki, adalah seorang yang tidak pernah bisa beradaptasi dengan baik dengan keadaan yang bertajuk "kehilangan orang yang saya kasihi". Butuh proses dan waktu yang tidak sebentar bagi saya untuk mencerna setiap peristiwa kehilangan yang dalam 5 tahun belakangan seolah datang bertubi-tubi. Saya sudah sampai pada "Okay, Boss, who's next? What's next" kind of phase.

Kebetulan, karena masih libur saya menyempatkan diri menyusun dan merawat foto-foto lama. Bak video, semua memori terputar kembali secara otomatis saat saya memandangi wajah-wajah mereka, yang telah kembali ke Rumah Yang Senang itu. Senyum disusul dengan tetes air mata pun terjadilah.

Dalam otak saya, yang tak seberapa besar ini, saya mencoba melogikakan peristiwa meninggalkan-ditinggalkan; peristiwa resiprokal yang mutlak terjadi dalam hidup.

»Saat Senja datang, apakah Bumi yang pergi meninggalkan atau Matahari yang mengucapkan selamat tinggal?« .

Entahlah.
Yang jelas keduanya sama-sama terluka.
Yang terpenting saya sudan belajar tentang kehilangan (lagi dan lagi tiada henti); bahwa tiada satupun yang bertajuk abadi.

Teringat pada perkataan seorang kawan:
"Tak ada yang absolut di dunia ini, kak. Yang absolut hanya kecepatan cahaya." ~Gita Elisa Ginting.

Mumpung masih diberi kesempatan, mumpung jatah nafas masih diberikan secara cuma-cuma oleh Sang Maha Hidup, nggak ada salahnya mengekspresikan rasa sayang kita ke orang-orang yang berarti dalam hidup.

Seperti kata mas Chris Martin: "So if you love someone, you should let them know oh the light that you left me will everglow..." .

Couldn't agree more... 💖💙

posted under | 0 Comments

Ngopeni Berkah

"Kenapa, sih, Pa, Papa suka banget sama lampu gantung kayak gini? Repot, tauk, harus tiap minggu ngebersihin," tanya saya pada suatu Minggu saat saya kecil dulu.

"Nyeni, dik. Lan ketok njawani. Bentuknya yang ndak biasa mengharuskan kita lebih ngopeni berkah," jawab alm. Ayah saya waktu itu.

Jawaban yang absurd buat anak SD, bukan? Ketimbang ketidakmudengan saya berlanjut, saya urungkan pertanyaan lain di kepala atas reaksi jawaban seperti itu, dan serta merta menanggapi dengan "Ooh..." .

Kemarin, Jakarta diguyur hujan lebat. Rumah kami yang tua disambangi bocor di sana-sini, termasuk di ruang tamu, tepat di atas salah satu lampu gantung kebanggan Ayah saya itu. Bisa ditebak, korslet disusul oleh mati lampu terjadi.

Sore ini saya memutuskan untuk mencoba mengganti fitting (rumah lampu) yang jadi sumber gelapnya rumah kemarin. Kegiatan yang butuh kesabaran karena ternyata cukup ribet bin riweuh melakukannya. Ilmu  yang saya peroleh dari ekskul elektro saat SMP dulu seolah tak membantu. Diiringi peluh dan keluh, penggantian fitting pun purna jaya. Ruang tamu kembali terang.

Tak berhenti di situ. Ibu saya, yang tak pernah bisa membiarkan anaknya berleha-leha saat liburan, menginstuksikan saya secara kejam untuk membersihkan lampu gantung serupa yang ada di rumah. Yak, betul, kelima-limanya.

Menghindari "nyanyian merdu" beliau yang bisa berlanjut sepanjang hari bahkan minggu, saya segera sigap melaksanakan instruksinya. "Siap, Ndan!"

Ulir-ulir perunggu yang njlimet dan kap belingnya yang rapuh cukup mengerjai saya. Pelan tapi pasti, kelima lampu tersebut bisa bersih dan nampak makin ciamik. Tak heran, Ayah saya begitu mencintai lampu-lampu ini, pikir saya.

Kegiatan sederhana tapi juga maharibet ini membuat saya sadar bahwa Tuhan sudah sedemikian baiknya memberikan karunia lampu-lampu ini. Sudah sepatutnya saya merawatnya dengan baik sebagai wujud syukur saya atas semua kebaikanNya yang tak pernah absen dalam tiap detik hidup saya.

Ngopeni berkah.

Frase yang kerap terlontar dari mulut Ayah saya menjadi lebih bermakna di sanubari sekarang.
Teruntuk Papa di Rumah Barunya: semoga kau bangga padaku.

posted under | 0 Comments
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Followers


Recent Comments