Urap Jagung: Awal dari Tindakan yang Tak Pernah Mudah

                       

Tidak seperti yang diperkirakan, gas di rumah
memutuskan berhenti melakukan dayanya dengan anggun saat dia dibutuhkan. Minggu siang yang cukup terik, membuat saya malas untuk keluar rumah untuk menukar (membeli) tabung gas yang baru. Tapi apa daya, saya harus keluar menuju warung terdekat supaya keberlangsungan masakan sederhana saya bisa pungkas dan bisa dikonsumsi.

Malam sebelumnya, saya disuguhi beberapa unggahan di media sosial yang seperti kita tahu bisa sangat menyita perhatian dan waktu. Dari sekian banyak unggahan, beberapa membuat saya manyun-manyun sendiri. Di penghujung liburan kenaikan kelas, di saat dompet saya sudah dalam taraf "meraung" dan mengharuskan saya memaknai keprasajaan dengan indah, beberapa unggahan menggelitik saya untuk merajuk dan meminta pada Yang Kuasa untuk meluberkan pundi-pundi rezeki saya. Bagaimanapun, saya manusia biasa yang ingin plesiran, makan enak, dan menikmati liburan seperti orang kebanyakan. Tak dinyana, semua kedongkolan tersebut dijungkirbalikkan keesokan harinya.

Kembali ke Minggu siang yang terik itu, tibalah saya di depan warung. Berbekal uang seratus ribu rupiah yang terlipat rapi, yang sebelumnya saya selipkan dalam dompet untuk keadaan mendesak, saya jalani niat untuk menukar (membeli) tabung gas berwarna hijau mentereng yang saya butuhkan saat itu. Saat berbalik arah hendak kembali ke rumah, perhatian saya tersita oleh sebuah gerobak kecil beroda dua berwarna merah kuning yang saat itu sedang dikerumuni oleh sejumlah orang, tua, muda, dan anak-anak. Perut yang mulai memainkan musik destruktif pun mendorong saya untuk mendekati kerumunan tersebut. Sesosok pria yang tak lagi muda terlihat sibuk menyendok dan mewadahi butiran-butiran jagung yang kuning menggoda ke dalam bungkus plastik mika. Kemudian si Bapak menaburi parutan kelapa gurih dan gula pasir ke atas onggokan jagung tersebut dengan luwes dan lihai. Aha! Urap jagung yang kerap saya beli waktu saya kecil dulu ternyata masih bisa dijumpai, tersuguh cantik di depan saya.

Senyum lebar tersungging di bibir saya dan mengantrilah saya dengan manis menunggu giliran.
"Dua bungkus, Pak. Satu nggak pake gula, ya," ujar saya dengan mantap.

Dengan sigap si Bapak menyiapkan pesanan saya, lengkap dengan sepotong kecil janur yang Ia siapkan untuk digunakan sebagai sendok.
"Jadinya 10 ribu, neng," tukasnya saat rampung membungkus.
Seraya menyerahkan uang, saya memulai percakapan,
"Banyak juga ya, Pak, jagungnya."
"Iya, neng. Semua harus habis sebelum Maghrib." Ujarnya.
"Kalau tidak habis lalu bagaimana Pak?"
"Ya saya makan sendiri, neng. Buat makan malem. Kalau sisa banyak ya saya bagi ke tetangga. Daripada mubajir." Jawabnya seraya menyerahkan uang kembalian.

Tertohok dan tertampar adalah diksi yang paling tepat untuk mewakili perasaan saya saat itu. Bagaimana tidak, seorang Bapak tua yang hanya memiliki sejumlah uang dalam laci gerobak kecilnya mampu mensyukuri berkat bahkan memberi kepada sesamanya saat dagangannyaa sedang tidak menguntungkan. Ya, saya malu saat itu. Malu karena takluk pada kedongkolan saya malam sebelumnya.

Bapak penjual urap jagung dan sikap hidupnya membuat saya terperangah. Ia telah menjadi bukti nyata dari definisi kurang atau miskin yang pernah dituliskan oleh Romo Mangun (Y B Mangunwijaya): "Miskin masa kini sudah tidak lagi hanya soal kekurangan uang, akan tetapi karena tidak mahir membuat pemilihan-pemilihan."
Dengan kata lain, saya miskin atau tidak bahagia karena saya tidak mahir membuat pilihan. Dalam hal ini memilih untuk bersyukur.
Sah sudah, Bapak penjual urap jagung adalah manusia terkaya yang pernah saya jumpai dalam hidup.

Bersyukur. Sikap yang tidak dilahirkan dalam keberuntungan, barangkali. Tak mudah dilakukan, tak mudah dimaknai, tak mudah pula dipahami. Seiring berjalannya waktu dan tuntutan menjadi dewasa sebagai konsekuensinya, semakin saya tersadar bahwa hidup dan pilihan-pilihan di dalamnya adalah suatu sikap, dan tak kesemuanya harus dipahami oleh orang lain yang tiada bisa memahaminya.
Akhir kata pada diri sendiri, "Shame on You, Niken!"



posted under | 0 Comments

Tabur-tuai

Syahdan, perempuan berbekal harap tak lagi bisa menampung gumpalan rasa yang menyesaki dadanya.

Malam itu juga dia memutuskan untuk menyampaikan semua kesesakannya itu pada semesta, pada bulan dan bintang yang merendah, hampir tertusuk ilalang.
"Tiada guna pula jika hanya kusimpan. Sesak ini patut dirayakan," ujarnya dalam hati.

Tanpa keraguan, ditaburkannya semua esensi pembuat kesesakan yang dirasanya saat itu. Bekal harap yang selama ini tak jua habis telah bertambah sebagai konsekuensinya. Tak lain dan tak bukan bahwa semua esensi yang ditaburkannya pada tanah basah malam itu akan bertumbuh elok agar nanti si penuai rindu akan menatapnya, hangat dan erat dengan seringai lembutnya; untuk kemudian menuai semuanya dengan tiada takut dan ragu.

Kelak, saat si penuai rindu menuai semua esensi itu, perempuan penabur akan menuturkan terima kasihnya dengan sebuah madah yang merdu sarat makna yang mampu membuai prenjak yang berkicau centil mengakui bahwa pangkal dari tabur-tuai itu adalah sebuah rindu.

Ujung-ujungnya kesemuanya harus mengakui jika waktu tak akan pernah mampu membayar apa yang rindu kerjakan.

Jakarta, 12 Juli 2016
2: 07.


posted under | 0 Comments

Kisah di Hari Biasa



Beberapa hari yang lalu, anak-anak, kawan belajar saya, dihebohkan oleh kehadiran Moth (sejenis kupu-kupu) yang hinggap dengan anggunnya di pojok luar ruang kelas kami. Serta merta mereka menarik saya keluar kelas untuk berbagi ketakjuban mereka saat itu.

Setelah cukup puas menatap dan menandak-nandak atas reaksi kegembiraan mereka, kami pun kembali memasuki ruang kelas dan melanjutkan aktivitas. Tak ayal, kehebohan mereka tak berhenti begitu saja. Komentar terus berhamburan selama hari itu berlangsung. Tak sedikit dari mereka bahkan mengetahui fakta bahwa Moth mengalami metamorfosis seperti layaknya kupu-kupu.
Yang mengejutkan adalah ketika salah satu mereka berkata bahwa Moth tersebut hanya butuh waktu untuk hinggap sejenak dan beristirahat. Ia lelah karena harus terus berubah sampai ia bisa seindah itu.

Senyum kebanggaan merekah seketika.
Ya. Memang betul, nak.
Jangan berhenti berjuang, karena kepintasan dan ketergesa-gesaan hanya akan membuat kita menjadi manusia-manusia prematur. Yakinlah bahwa selalu ada makna dan keindahan dalam setiap peristiwa kehidupan, karena rasa sakit mustahil ditiadakan.

posted under | 0 Comments

"Perjalanan/Kereta Malam"

Setelah mendengarkan beberapa karya emas mereka, menurut saya inilah balada terbaik yang "dilahirkan" Franky & Jane Sahilatua, duo kakak beradik yang belum ada tandingannya di ranah musik Indonesia (sekali lagi, menurut saya).

Sekadar opini awam kelas teri nasi dari saya yang semata-mata menikmati setiap harmonisasi sederhana namun lugas, yang terkandung di dalam lagu ini. Jelas jika opini ini jauh dari perspektif musikal ndakik-ndakik bin njlimêt (kelas kakap jumbo).

Saya harus berterimakasih pada sosok ibu Esther Soebarkah (ibu saya) yang pertama kali (dan cukup sering sesudahnya) membiarkan lagu ini terdengar secara ciamik di telinga saya melalui mini compo miliknya.

Tidak hanya balada Franky & Jane tetapi juga karya-karya apik dalam dan luar negeri, mulai dari keroncong, langgam-langgam Jawa, seri kaset cerita anak, seri kaset Wayang Kulit, dan juga lagu lainnya yang cukup hits pada waktunya (tentu saja menurut selera Ayah dan Ibu saya yang bisa dibilang biasa saja).

Adapun, alasan ibu saya menyetel mini componya hampir setiap pagi untuk saya amat sangat sederhana bahkan cenderung konyol. Bukan karena alasan supaya anak bungsunya terbiasa dengan berbagai genre musik atau agar saya bisa mengapresiasi karya seni secara baik dan benar. Bukan.
Hanya sekadar agar saya (saat itu belum usia sekolah) bisa duduk manis dan antêng setelah mandi, menikmati sarapan yang kadar kelezatan menunya tergantung dari tua/mudanya tanggal.

Percaya atau tidak, metode ibu saya ini teraplikasi sangat baik. Saya, yang biasanya coreng-moreng dengan lotion anti gatal biang keringat (baca: Caladine lotion, sungguh bukan iklan), bisa duduk manis mendengarkan lagu-lagu, sambil mengunyah cenderung memamah biak setiap menu sarapan yang disodorkan. Ibu saya? Ia bisa dengan lantjar djaya membereskan tugas-tugas kerumahtanggaannya tanpa gangguan usil seorang anak perempuan gendut yang menyebalkan (yakni: sahaya).

Alkisah, suatu hari, sekonyong-konyong dan mak bedunduk, bu Esther menyetelkan lagu berjudul "Perjalanan/ Kereta Malam" yang secara absolut membuat perhatian saya tersita sejak saat pertama kali mendengarkannya. Suara cempreng-merdunya Jane Sahilatua dan alunan musik bernuansa lirih dalam lagu ini sukses membuat saya mimblik-mimblik alias sedih. Apakah lirik lagu ini membuat saya juga merasa mellow-mellow marshmallow? IYA NGETZ!
Demikian liriknya:

Dengan kereta malam ku pulang sendiri
Mengikuti rasa rindu
Pada kampung halamanku
Pada ayah yang menunggu
Pada ibu yang mengasihiku

Duduk di hadapanku seorang ibu
Dengan wajah sendu, sendu kelabu
Penuh rasa haru ia menatapku (2x)
Seakan ingin memeluk diriku

Ia lalu bercerita tentang
Anak gadisnya yang telah tiada
Karena sakit dan tak terobati
Yang wajahnya mirip denganku

Belum lagi ditambah dengan suara mevrouw Esther yang terkadang lamat-lamat turut mendendangkannya. Suaranya, sih, biasa saja, tapi entah kenapa bisa membuat saya makin terseret ke nuansa kepedihan dan kesedihan lagu ini. Sadar atau tidak, lagu ini mengantarkan saya pada proses memaknai tema "kehilangan orang terkasih" sedari dini.

Setelah saya bertambah usia, seiring dengan cukup laknatnya deraan pengalaman "kehilangan" dalam hidup, semakin pula mantap memutuskan untuk tidak ragu menyatakan pada orang-orang terkasih, bahwa saya amat menghargai keberadaan mereka dalam hidup saya, lengkap dengan segala manis-pahit-getir yang mereka sertakan.

Mumpung masih diberi waktu oleh Yang Maha Kasih, dekaplah, peluklah, ciumlah, dukunglah, semangatilah, senyumilah, dan yang terpenting doakanlah orang-orang yang kita kasihi. Rayakan setiap pertemuan, syukuri setiap perpisahan, Maknai setiap kehilangan. Karena hidup senantiasa memberikan pengalaman "kehilangan" tanpa pertanggungjawaban. Bisa sekarang, besok, atau lusa.
Mengutip perkataan seorang kawan, "setabah apapun kamu, pertemuan adalah gerbang menuju perpisahan. Terima saja, bahagia ada untuk menjemput kesedihan."

Teriring salam dan doa yang niscaya bisa menghangatkan malam dingin ini. Semoga saja.

posted under | 0 Comments

Seklumit Tutur Penantian

Asa, kembalilah merasuki relung-relungku.
Aku rindu merasakan kobaran hangat percikmu.

Meranggas bak daun jati di musim kemarau, demikian kau pelan-pelan mengebaskanku.
Sejuntai harap masih kerap menyambangi, tapi percayalah, itupun tidak menyunggingkan kurva sempurna di bibirku.

Selarik tanya serta merta menggelayut, apa definisi bahagia?
Apakah pemeriannya harus segera dilakukan demi kembalinya dirimu secara segera, Asa?

Kuberitahu, Asa:
Perjumpaan selalu menyenangkan, walaupun syak wasangka masih turut campur.
Perjumpaan, reaksi atas tutur sapa semu tanpa tatap muka.
Perjumpaan, yang seketika menimbulkan rasa yang dulu pernah menjadi tamu tetap di batinku.

Inikah suatu markah yang kau kirimkan padaku, Asa?
Sasmita akan linimasa yang kunanti-nantikan, tidak lain tidak bukan, kehadiranmu kembali, Asa?
Sebongkah haru bernuansa ria seketika membuat kerongkonganku tersekat.
Percayalah, Asa, aku siap menyambutmu dengan pelukan hangat.
Karena itu, kembalilah.

"tidurlah dlm kebaikan, doaku menghangatkanmu"
Lugas dan sederhana.
Kuberitahu, Asa:
Sandimu itu menabuhkan tayub. Percayalah.

Di penghujung hari, mengolah rasa, menjalin tali temali pikir, bermuara pada jawaban.
Kebahagiaan adalah suatu bentuk keberanian.
Keberanian untuk melangkah gontai tanpa kehadiranmu.
Kebahagian tidaklah lebih dari suatu ingatan yang buruk.
Ingatanku yang buruk tentang hidup.

Perjumpaan dan perpisahan, sebatas anak rambut barangkali.
Oleh karena itu, Asa, kembalilah.

posted under | 0 Comments

Sekadar Menyampaikan Apa Yang Tak Sempat Terlisankan

19 September 2015
1 tahun, 2 bulan, 9 hari after you decided and declared that you're giving up on me, giving up on us.

19 September 2015, 09:48
Untuk pertama kalinya sejak lini masa itu, aku melihat punggungmu dari kejauhan. Untuk pertama kalinya jua setelah masa laknat itu, aku tepuk pelan pundakmu, pundak yang kutahu persis bentuk dan aromanya.
Kau menoleh, dan aku hanya bisa tersenyum.
Jangan kau tanya apa yang berkecamuk di dalam dadaku saat itu, stupaku.

1 September 2015
Kau menyapaku dan menanyakan kabarku.
Kau bertutur acak mengenai beberapa hal tentang hidup dan dunia kerjamu.
Bercakap dan bertukar ceritera, aksi yang sering kita lakukan bersama dulu. Ya, dulu.
Tak bisa kupungkiri, stupaku. Aku rindu aksi itu. Rindu percakapan acak kita tentang hidup dan kadang juga tentang kematian, yang kerap diselipi tawa bahkan bahak.

19 September 2015
Untuk pertama kalinya setelah beberapa lama, kudengar suaramu. Kulihat lagi senyum indah and sparkles in your eyes that never fail to brighten up my heart.
Harus kuakui, hal-hal itu masih menceriakan pranaku.

19 September 2015
Untuk pertama kalinya setelah aku melihat punggungmu menjauh pergi perlahan dari pandangku, aku merasakan bahagia. Bahagia bisa melihat sosok nyatamu persis di hadapanku.

Saat itu, saat kau melangkah gontai pergi, I was feeling so small, bahkan sampai saat ini.
It was over my head and my consciousness.


19 September 2015
Aku bahagia tapi tidak sepenuhnya.
Tenggorokanku tersekat menahan pedih yang tiba-tiba memutuskan untuk singgah di dalamku.
Just when i'm starting to crawl, to go out bravely in the rain, i got plummeted by a downpour.
Takdir tak bisa dihindari, barangkali.
Cynical? That's the way I am. Kau tau persis itu.

19 September 2015
Stupaku, kau terlihat sangat bahagia.
Maafkan aku karena tidak bisa dengan mudah mengenyahkan sesuatu yang begitu indah dari kepalaku, dari hatiku.

19 September 2015, 18:45
Aku memutuskan untuk pergi ke food court, duduk di tempat yang sama dengan tempat yang kita pilih waktu itu.
Aku putuskan untuk memesan menu makanan yang sama persis dengan menu yang kita lahap bahagia saat itu. Semangkuk bakso dan sepiring kecil sushi. Tak mewah memang, tapi aku bahagia saat itu.

19 September 2015
Aku tersadar bahwa rasa sakit itu tak akan hilang dan bahkan tinggal tetap.
Aku memutuskan untuk bahagia untuk kebahagiaanmu.
Aku memutuskan bahwa aku akan melakukan sesuatu yang akan membuat matamu tetap bersinar gilang gemintang.
Camkan ini, kau berharga dan aku akan selalu bangga padamu, bangga akan segala torehan yang sudah dan akan kau buat dalam lembaran hidupmu.
Janji padaku satu hal, stupaku. Jangan pernah lupa untuk bahagia.
I will swallow my pride, you're the one that i love, and I'm saying goodbye.

Salam hangat,
Kera buruk rupamu.

belum jelas warnamu

Satu masa telah lewat, paling tidak itulah yang terus ditanamkan si kera dalam batinnya.

tiba pada suatu waktu yang membuat kera harus meredefinisi makna hidup.
nayang magenta masih sekali dua kali menggelayut erat di pelupuk matanya. masih pula indah entah karena apa.

sapa hangat dan jahil ujaran yang prapti pada pagi itu seolah membuka singkap batin kera yang sudah terlanjur memagenta
apa lagi ini, Tuhan? tanyanya pada Sang Maha Hidup

songkok bahagia yang kupakai setiap waktu ini pasti akan terkulai menyerah pada akhirnya.
perlukah kubuat songkok baru?
jika pun harus membelinya, di tempat macam apa bisa kutemukannya?
tanya demi tanya meenyeruak dari dalam kepalanya

puntir.
bukan. pelintir. ujar si sapa jahil

mau kutitipkan salammu untuk stupamu itu? tanyanya usil

tua juga rupanya dirimu, kera! demikian seloroh yang kerap keluar dari binirnya

diskusi ringan hingga berat mulai diwacanakan si kera pada si jahil
dengan berat hati si kera lagi lagi harus mengakui bahwa ia mulai bermain di domain yang amat membuai rasa
belum jelas warna warninya, memang

satu hal yang pasti,
Inestimable. That's what you are


posted under | 0 Comments
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Followers


Recent Comments