Gendhis
Sepenuhnya berusaha meranggaskan daun-daun pohon jati
pada musim hujan membuahkan peluh yang sia
Seyogyanya mulai melucuti diri dari rapalan doa dan harap
agar tersadar dari semu
Guratan halus waktu menghiasi raut lelah
yang dulu pernah menoreh pelangi di ujung sana
Tak ayal tersentak oleh kenyataan bahwa hanya senyum,
celoteh riang, dan isapan bibir indahmu yang membuat semuanya berarti
Gendhis,
maafkan kera buruk rupa ini yang harus mulai merelakan kepergianmu.
Ketika Semuanya Tak Lagi Bercerita
Menistakan dan menyalahkan diri
kesukacitaan kera buruk rupa
Menggapai-gapai lengkungan hangat stupa yang kokoh dan arogan tidak membuat si kera lelah.
Mencungkil setiap tepian hasrat terpendam dalam pusaran rindu tak kan mampu dilakukannya
Serupa dengan merahnya kirmizi pada selendang perempuan tegas namun elegan, sejalan dengan putihnya salju terhampar saat musim dingin di belahan dunia yg tak pernah pula ia lihat.
Seperti itu. Bahkan mungkin lebih.
Stupa tak jua bicara, tak lagi bercerita.
Bersirobok dengan prana yang membuai, melantunkan irama merdu yang nampaknya mulai melunturkan kepekaannya yang semula gemilang.
Dia memilih mengenakan kuk itu dan memutuskan untuk menikmatinya walau kera menjadi seolah tak terindera.
Candra mulai memekik pada malam, si kera diam seribu kata, hanya loyo bertatapan nanar
Ingin menggeraung cenderung menggeram tapi alih-alih ia hanya menghela nafas, mengisut dan mengering
Pipilikas merambati pepohonan dan berbaris di tanah tertawa menghinakan
Kera tak mengindahkan, menggerus dalam keloyoannya. Pilihan? Mungkin ya, mungkin pula tidak.
Keheningan adalah teman sejatiku pikir si kera
Karena dalam kelemahanku, nyata benar kuasa semesta
Daya masih melekat di raga
Sampai semuanya pergi dari raganya yang nista, kera buruk rupa tak kan lelah menggapai-gapai
Kesukacitaannya, sang stupa
Menari di tengah gemerisik dedaunan kering, menyepak ranting-ranting patah
Menikmati pilunya savana tempat kokohnya sang stupa yang berdiri arogan
Dan tak lupa, ia akan terus menggapai dan menggapai.
kera buruk rupa dan stupanya
matahari pagi ini belum mengeraskan kehadirannya,
ia masih menjalankan titah dengan rendah hati
kera buruk rupa termangu memikirkan dan mengingat kembali apa yang terdengar di telinganya saat pagi belum menyapa
seperti mimpi, seolah ingin menafikan apa yang telah terucap oleh keangkuhan stupa
tidak selamanya kera buruk rupa yang hidup atas kebodohan dan iba
menerima dengan lapang ketika asanya harus bertekuk lutut di hadapan sesuatu yang teramat arogan
stupa itu tahu, si kera memujanya
andai saja stupa mendengar dengan lebih seksama, dia akan mendengar lirih kera buruk rupa berujar:
"lihat aku di sini, mengajakmu menari bersama menikmati semilir angin membelai helaian rambut yang menyimpan segala cerita luka pedih yang mau tak mau kita bawa"
"lihat aku di sini, lekat di bahu dan celah eksotismu, siap hadapi dan songsong apa terjadi"
"lihat aku di sini, tak kan rela hujan badai dan terik mentari menghujamimu terlalu banyak. biarkan ku rasa laramu. biar kukecap pilumu"
"mari stupa, melihatmu berdiri di sana, memutihkan keabuanku'
"mari stupa, lihat, lihat, dan lihat lagi, ada aku di sini, mengasihimu dengan sederhana dan dengan segala yang ku bisa"
ratapan akan menjadi tarian
langkah kakimu dilekati bayang kelam yang nyaris hitam pekat
sumpah serapah pagi tadi masih nyata di pelupuk mata
berat beban di pikirmu membuat lehermu tak kuasa mengangkat benda seberat bola bowling yang orang kenal dengan sebutan kepala.
ya, kepalamu.
masih di dalam lingkaran yang sama di tengah savana itu
masih berusaha menyerap energi jagad sekelilingmu
ingin menyeracau menghambur menyerobok ke dalam lingkaranmu
mencoba menarik sebagian laramu
telah kusiapkan prana khusus untukmu, tempat yang membolehkan kau tersenyum lembut seperti dulu
yang membolehkan bahumu tegak membusung
dan matamu kembali secermerlang dulu
tidak dulu sebenarnya, hanya sepersekian detik sebelumnya.
asa, berpadu harap, untukmu lelakiku.
harap sang kera buruk rupa
mengelupas lapis demi lapis
permukaan halus kain berwarna rubi yang
biasanya menantang, tersingkap,
sekarang terkulai merana
menyusup keluar, lolos laksana raib
setiap penopang yang ada
merelung dan mengais iba setiap mata yang melihat walau hanya sekelebat
kera buruk rupa, lompat dari stupa ke stupa
mencari peraduan yang nyaman, yang bisa menaungi dari deraan dunia
kera buruk rupa melompat dari satu relief ke relief lainnya
mencari caila, gunung yang ia rindukan
menjulang tinggi penuh kemegahan
ingin segra menuju alam antara
mengawali langkah dari lapik, menuju ke pelipis bawah dan atas, sampai ke pelipit
mengerang menahan lara yang akan berujung keindahan
bibir terkatup rapat
hati bersikap doa
semoga
dan semoga.
Total Tayangan Halaman
About Me
- niken adiana wiradani soebarkah
- perempuan sederhana yang masih selalu dalam proses belajar, dan sangat percaya akan kekuatan kasih.
Label
- Inestimable (1)
- magenta (4)
- Menanti Asa (1)
- Penuai Rinduku (15)
- pria berjaket abu-abu di sudut kursi bus transjakarta (17)
- sekadar mem(bahas)a (19)
- sekadar menulis (18)
- the man who keeps me sane (8)




Recent Comments