masihkah?

kekasihku,
walau sebetulnya ku enggan mengakui, tetapi ku harus berani menerima bahwa
akhirnya kita berdua telah sampai pada suatu linimasa,
periode yang telah lama kita ketahui akan menghampiri.

namun sebelum itu semua pupus dan musnah, tolong jawablah
apakah jari-jemarimu masih selembut beludru mengelus pipiku?
apakah tuturmu masih sehangat dulu, memintaku untuk beristirahat dan meminum teh manis hangat saat ku demam, seraya mengecup dahi dan membelai kepalaku?

kebetulan memang dulu kita pernah berdiri tegak bersama, berdampingan, di tepi tebing itu. tak mengindahkan angin kencang yang kerap mendera tubuh kita dengan berjuta nyeri.
tak ayal, kita pun pernah terduduk tenang, menikmati pancaran hangat mentari dan saling menyemburkan energi penuh keindahan milik kita masing-masimg agar melebur, meleleh dan melumuri keluguan kita dengan selaksa rasa.
pahit namun indah, dan tentu saja, tak pernah kusesali. semesta kita yang dulu itu masih tersimpan rapat. tempat terindah yang pernah ku sambangi.

kebetulan memang dulu kita tak perlu banyak bicara. desah lembut nafas kita yang tekadang mengadu dan memburu, serta detak degup jantung kita yang berdenyut berirama mampu ungkapkan semua yang tidak dapat dituturkan lewat bahasa mana pun. keringat kita  bersinergi mengejawantah menjadi sekelumit asa berbungkus canda ria yang serta merta membuai kealfaan dan kesilapan kita.

namun di atas segalanya itu, ku masih ingin menanyakan, masihkah?
semuram apa pun telah kau buat hari-hariku sekarang, ku tak pernah mau melepas mimpi dan harapan kita dulu. ia masih enggan beranjak dari pelukanku yang dalam dan sakit, di bawah langit biru yang sama, di atas tanah coklat yang sama, yang kita bagi bersama di semesta indah kita, somewhere only we know.

berhenti, cantik!

sorak sorai para sahabat dan keluarga terkasih
menyemangati
meyakinkan
bahwa aku berharga
aku pantas dicintai.

      masih saja
      blunder

bebal layaknya keledai
membuat ruam dan irisan di diri sendiri
masih saja

      aku merindukannya, masih ingin menantikannya pulang.

     kembali teriakan itu membahana
kami sangat menyayangimu
tidak ingin melihatmu semakin terpuruk
dan membangun tembok
yang tersusun atas kebodohan demi kebodohan.
     hargamu terlalu mahal untuk dia beli
dia tak patas tuk dapatkan cintamu
dirimu lebih dari perempuan itu.
kehilangan dan kesakitanmu sekarang akan berganti tawa riang dan sorak sorai nantinya.
kerahkan semua niat dan setiyarmu untuk jelang yang terbaik.

namun, masih, masih saja
blunder

tidakkah kau lelah, duduk di kursi goyang itu, senantiasa bergerak namun tak membawamu ke mana pun jua?
ya, aku lelah. sangat lelah.
sudah saatnya ini semua dihentikan.
berhenti!, kataku.

bisik hangatmu

malam beranjak
pagi menjelang
masih terngiang
jelas tanpa distorsi
masih terasa hangat
nafasmu di telingaku

saat bisik lembutmu bergulir tanpa jeda
     hujan pagi ini mengguyur hatiku
     dengan beribu asa, setia, dan cinta
             bila hujan reda, akan ku kirimkan
             pelangi hatiku ke indah matamu

terima kasih, kekasih
bisik hangatmu yang dulu itu
buatku buta, lengah, dan membiru

kelabu lusuh dan pedati


Toko tua menawarkan
Lelaki muda menyambangi
Kelabu lusuh yang ditawarkan
Kelabu lusuh itu pula yang dibeli lelaki muda
Dibuatnya jadi sejuta warna       
                Beratus pedati bermuatan kebahagiaan,
                Ditarik sepasang kebo bule
Kelabu lusuh mengaduh
Mengiba dibeli kembali
Sejak lelaki muda membuang dan makin mengoyakkan kelusuhan
Kelabunya.
                Beratus pedati bermuatan muram-durja,
                Ditarik sepasang kebo bule
                Terasa makin berat, seiring pudarnya kelabu lusuh itu.

pesut


Menggelepar-gelepar, butuh penawar
Akan kubeli semua tamba, jika ada yang menjual,
Yang dapat menambani tatu yang hadir karena
Rindu terdalam yang pernah ada.
                Ikan pesut buruk rupa
Kalah pamor dengan putri duyung
Cantik menawan

Menyeret, menyeret, membuai hatimu
Memesutkan kepesutanku yang pernah  memesutkan
Kepesutan hatimu.
                Tersisik, sisik demi sisik mengelupas
Megap-megap membelalak
Bisu, termangu-mangu
Coba tetap hargai kepesutanku

                Pesutnya, kau, pesutku
Keindahanmu begitu pesut
Kepesutanmu tak kan terganti
Hanya kau, pesut dalam samudera luasku.
                Kemolekan pesutmu, kelebat sirip pesutmu
Ingin selalu mencumbu dan merengkuhmu erat, wahai pesutku.
Kemarin, belum lama berlalu.

Sekarang, kepesutanku tidak lagi memesutkan.
Pesut yang memesut hanyalah pesut tanpa sisik yang tak ubahnya najis dalam samudera luasmu.

sine qua non

bergulung-gulung menyerbu
menyeringai penuh kemenangan
menjebak, perangkap lengket, dalam setiap gulungannya
mengikat, mengoyakkan
    datang, pergi, datang lagi
   berlari-lari menghindari
    namun tertangkap lagi, terpuruk, meringis perih
menyerbu, menyerosok penuh kebencian.
menertawakan kemalanganku, terbahak di atas kesedihanku.

awan hitam berkelebat miring, terbatuk-batuk
kelopak kelepak sayap matahati
lelah mengepak
mata
lelah mengedip
sayap

menggapai, melepaskan kungkungan sayap rusak
ngilu, getar, bergidik, mengernyit
getas, getun, gela, gelap

siapa yang tidak? apa yang mengganti?
siapa yang terganti?

bergumul, mengepul, menggelandang
dalam padang ilalangmu yang kini tajam sangat, matahari di semestaku.

nanar menatap berlian terindah
melompat ke dalam pelukan payudara perempuan pemangsa
bertubuh gigan, bergaun hitam mini berpotongan dada rendah,
memamerkan senyum manis licik, mengibaskan rambut belingnya yang membingkai wajah menang telak penuh kerlingan.

   sekat, lekat, menahan
berontak, tidak mau, tapi harus.
   MUNTAH.

menikmati mendekap berlian terindah yang dulu sempat punyaku, bukan lagi sine qua non
nikmatnya teriris tajamnya sisisisi berlian terindah itu, bukan lagi sine qua non.

    karena ku tidak kalah, tidak salah
meski kau merasa menang, benar.

kamadatu

apakah aku masih di dalam fase kamadatu?
serba-masih-ingin segalanya?
i don,t think so!

cakrawala yang menghindari setiap langkahku
membuatku terperangah dan tersadar,
jalanku makin hambar.

tapi aku percaya,adalah kasih tulus yang menari di sana,
saat kumelihat kelebat sosokmu dari kejauhan

saat ini aku tahu benar bahwa di hatimu
ada sebuah nama yang seribu kali lebih indah dan manis dari namaku
yang membuatmu bangga untuk pancarkan suryamu, yang dulu pernah untukku.

tapi tahukah kau?
aku seribu kali lebih bangga
untuk menyimpan namamu dalam loh hatiku, dan juga setiap bagian ingatanku,
tanpa perlu kulafazkan, lagi dan lagi.

kamadatukah itu?

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Followers


Recent Comments